Misteri Kematian Zara Qairina yang Mengguncang Malaysia, Berikut Kronologinya

3 minutes reading
Friday, 15 Aug 2025 02:34 398 Arif Rahman

Portalbaraya.com – Pertengahan Juli 2025, Malaysia diguncang oleh kabar kematian tragis seorang siswi berusia 13 tahun, Zara Qairina Mahathir. Kejadian ini bermula pada dini hari 16 Juli, ketika Zara ditemukan tak sadarkan diri di drainase bawah asrama putri lantai tiga SMKA Tun Datu Mustapha di Papar, Sabah.

Peristiwa itu langsung menimbulkan tanda tanya besar—tidak ada saksi yang melihat, dan kamera CCTV pun tidak merekam momen tersebut.

Zara segera dilarikan ke RS Queen Elizabeth I di Kota Kinabalu dalam kondisi kritis. Keesokan harinya, dokter menyatakan otaknya sudah tidak berfungsi. Keputusan diambil untuk menghentikan alat bantuan hidup, dan Zara dinyatakan meninggal dunia.

Jenazahnya kemudian dimakamkan pada hari yang sama, tanpa melalui proses autopsi karena sang ibu menandatangani formulir penolakan pemeriksaan forensik. Langkah ini memicu pertanyaan, mengingat prosedur tersebut biasanya menjadi standar dalam kasus kematian yang mencurigakan.

Kecurigaan semakin kuat ketika keluarga menemukan memar dan luka pada tubuh Zara saat proses pemandian jenazah. Sang ibu, Noraidah Lamat, kemudian membuat laporan resmi ke polisi dan mendesak dilakukan autopsi ulang.

Desakan ini dikabulkan, dan pada 9 Agustus, makam Zara dibongkar untuk proses ekshumasi. Penggalian dilakukan di bawah pengamanan ketat, disaksikan langsung oleh keluarga, pengacara, serta tim medis forensik.

Hasil autopsi mengungkapkan bahwa penyebab kematian Zara adalah ensefalopati hipoksia-iskemik traumatik, cedera otak akibat kekurangan oksigen dan aliran darah—kondisi yang sesuai dengan jatuh dari ketinggian.

Polisi menyebut temuan ini konsisten dengan diagnosis awal. Namun, pihak keluarga melalui pengacaranya menegaskan bahwa hasil tersebut belum menjawab seluruh pertanyaan, dan meminta penyelidikan lebih mendalam.

Kasus ini memicu gelombang reaksi publik. Tagar #JusticeForZara ramai di media sosial, dengan banyak warganet menduga adanya unsur perundungan di lingkungan sekolah.

Spekulasi tentang kelalaian pengawasan pihak asrama dan kemungkinan kekerasan sebelum kejadian pun merebak.

Demonstrasi damai digelar di sejumlah wilayah di Sabah, menuntut keadilan dan transparansi proses hukum.

Keluarga juga menyerahkan sebuah rekaman audio berdurasi 44 detik yang memuat percakapan antara Zara dan ibunya. Dalam rekaman itu, Zara sempat menyebut nama “Kak M” dan memberi kesan bahwa ia mengalami tekanan atau ancaman. Rekaman ini kini menjadi salah satu bahan penyelidikan.

Tekanan publik membuat pihak berwenang bergerak cepat. Menteri Dalam Negeri menyatakan kasus ini akan dibawa ke parlemen untuk mendapatkan penjelasan resmi.

Polisi federal mengambil alih penyelidikan, sementara Pengadilan Koroner dijadwalkan menggelar inquest untuk mengungkap fakta hukum penyebab kematian Zara. Proses ini diharapkan dapat memberi jawaban yang pasti bagi keluarga dan publik.

Direktorat CID Bukit Aman menyebut penyelidikan berjalan di dua jalur: memverifikasi penyebab kematian sesuai temuan forensik, dan menyelidiki potensi perundungan atau kekerasan yang dialami korban. Puluhan saksi, termasuk teman sekelas dan staf asrama, telah dimintai keterangan.

Dampak psikologis dari tragedi ini juga menjadi perhatian. Lebih dari seratus siswa sekolah Zara mendapatkan dukungan konseling untuk mengatasi trauma. Pemerintah menyatakan langkah ini penting agar kondisi mental mereka tetap terjaga.

Sementara itu, pihak kepolisian menindak tegas penyebaran informasi palsu terkait kasus ini. Seorang wanita ditangkap karena menyebarkan klaim tak berdasar bahwa Zara dimasukkan ke mesin cuci. Ia kini menghadapi proses hukum karena menyebarkan berita bohong yang meresahkan masyarakat.

Kematian Zara Qairina bukan sekadar tragedi pribadi bagi keluarga, tetapi juga menjadi ujian besar bagi sistem hukum dan pendidikan di Malaysia.

Proses hukum yang transparan dan akuntabel kini menjadi tuntutan publik. Bagi keluarga, keadilan berarti mendapatkan jawaban yang jelas tentang apa yang benar-benar terjadi pada malam naas itu.

Harapan masyarakat adalah agar hasil penyelidikan mampu memperbaiki sistem pengawasan di sekolah, meningkatkan keselamatan anak-anak di asrama, dan memastikan bahwa setiap siswa mendapat perlindungan yang layak—agar tragedi seperti ini tidak terulang di masa depan.

LAINNYA